Sabtu, 23 Mei 2015

surat untuk sang calon imam

Makassar, 23 Mei 2015


Wahai calon imamku......
jadilah lelaki yang sholeh bimbinglah daku menjadi wanita sholeha, jangan kau rusak imanku dan akhlakku dengan apa yang telah kau lakukan selama ini.
Mimpi dan impianku bisa bersamamu selamnya, menjadi kekasih halalmu adalah harapanku. Mungkin engkau terbebani dengan perasaanku padamu, engkau mengatakan padaku takut akan mengecewakanmu. Mungkin kau benar dengan perkataanmu namun aku tak akan banyak berharap kalau dari awal engkau tak memberikan aku harapan begitu besar untuk bersamamu.
Wahai calon imamku...
Maafkan aku jika aku masih banyak kekurangan yang ada terhadapku, aku selalu berusaha mencoba untuk menjadi seperti apa yang kau inginkan. Kadang aku sakit hati dengan perkataanmu, saya sudah berusaha untuk menjadi wanita yang seperti kau ingikan tapi kau selalu mengatakan aku itu “ongol2”. Sakit hati yang aku rasakan tak akan kau pahami ketika seseorang yang kita sayangi tak pernah menghargai apa yang kita lakukan.
Wahai calon imamku...
Hargailah hatiku, dalam doakupun selalu mendoaknmu orangtuaku,kluargaku dan dirimu.
Wahai calon imamku...
Jagalah sholatmu, jangan karna sebuah kesibukan kau lupakan kewajiabanmu. Sesungguhnya air wudhu yang selalu kau usapkan diwajahmu membuat cahaya terpancar. Sejuk hatiku memandangmu setelah engkau menjalankan kewajibanmu untuk beribadah.
Wahai calon imamku...
Tak akan kupaksakan perasaanmu terhadapku, sekarang hubungan kita sudah berjalan 17 bulan (1th 5 bln).ini bukanlah perjalanan singkat sampai selama ini namun aku akan bertahan supaya engkau sadar sebetapa tulus diriku.
Wahai calon imamku...
Jika kau tak suka membaca kata-kata yang telah ku rangkai sedemikian indah hanya untukmu seorang. Saya harap engkau menyimpan kata2 ini.
Aku sayang engkau wahai calon imamku, aku mencintaimu karna agamamu dan akhlakmu